Etika Sesama Dokter… (???)

Mendengar cerita seorang kawan tentang “kelalaian seorang dokter kandungan” pada persalinan anak pertama kakaknya yang juga sebagai cucu pertama orang tuanya agak sedikit gemas.

Sebuah keluarga kecil tengah berbahagia menanti kelahiran seorang buah hati yang ditunggu-tunggunya selama 9 bulan dalam kandungan, sepasang kakek nenek yang ikut berbahagia menanti kelahiran cucu pertamanya, selama 1 tahun menabung untuk bisa turut serta berbagi kebahagiaan mempersiapkan kedatangan sang cucu dirumah mungil anak mereka.

Harap-harap cemas kebahagiaan keluarga kawanku ini berubah menjadi sebuah duka kesedihan. Hari Sabtu sore usai mereka menikmati akhir minggu bersama keluarga besarnya calon orang tua muda ini datang ke rumah sakit ibu & anak tempat biasa mereka memeriksakan kandungannya karna sang calon ibu mengeluarkan flex darah. Usia kandungannya saat itu sudah cukup waktu untuk melahirkan,9 bulan lebih, namun karena dianggapnya anak pertama jalan buka bayinya agak lama maka pasangan ini disarankan pulang oleh pihak rumah sakit dan diminta kembali esok harinya, hari minggu.

Keesokkannya mereka kembali ke rumah sakit. Seperti rumah sakit pada umumnya hari minggu tidak ada dokter spesialis kecuali dokter jaga. Namun karena sang calon ibu sudah terasa mulas-mulas, hingga badannya panas meriang dokter kandungan tak kunjung datang, singkat cerita akhirnya sang jabang bayi ini pun meninggal karena terminum air ketuban dan lehernya terlilit tali pusar. Ditemukan bercak biru dilehernya dan ditanyakan kepada dokter spesialis anak yang menanganinya dokter spesialis anak itu mengatakan kalau bercak biru tersebut akibat terlilitnya tali pusar dilehernya. Yang menjengkelkan, dokter kandungan beralasan ketidak hadirannya karena hari itu ada pengajian dirumahnya menjelang perkawinan anaknya… menurut saya ini sikap yang tidak professional.

Sepasang kakek nenek yang bersedih juga orang tua sang bayi yang sangat berduka melaporkan masalah ini kepada lembaga yang menangani pengaduan konsumen, pihak rumah sakit mengirim beberapa orang pengacaranya untuk mewakili dokter yang dilaporkan kelalaiannya tersebut juga dengan beberapa orang saksi termasuk dokter spesialis anak yang memberi pernyataan bercak biru dilehernya adalah efek dari tali pusar yang meliliti lehernya sang bayi. Dokter kandungan itu melalui pengacaranya berdalih sudah melaksanakan semua prosedur kedokteran melalui suster yang bertugas, tetapi yang saya herankan dan gemas mendengarnya adalah dokter spesialis anak yang bungkam di forum, tidak memberi pernyataan sesuai yang ia sampaikan kepada orang tua bayi tersebut bahwa bercak biru dileher sang bayi adalah efek dari terlilitnya tali pusar. Menurut kawanku, hal seperti ini memang sudah biasa karena antara dokter terikat peraturan etika sesame dokter. yaitu untuk saling melindungi.

Jika peraturan etika itu benar adanya seperti itu saya betul-betul heran. Bagaimana mungkin seorang dokter mampu menutupi sebuah kesalahan kawan seprofesinya padahal atas kelalaian kawannya tersebut telah menghilangkan nyawa seorang bayi. & kenapa sepertinya peraturan etika seperti ini tidak bisa dirubah? apa iya sebegitu kakunya? Lalu dimana harga sebuah nyawa manusia? dan dimana hak konsumen untuk mendapatkan kebenaran… aneh

Ternyata, orang pintar belum tentu mampu menjadi orang benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s